Followers

SELAMAT DATANG DI BLOG PENUH PENCERAHAN INI

Disamping itu, antara tahun 1990 sampai 2000 terdapat setidaknya delapan belas buku dan banyak artikel jurnal yang secara spesifik berbicara tentang buku Syahrur. Banyak kritikus Syahrur yang mencoba kecenderungan Marxis-materialistik-sekular dalam pemikiran Syahrur, yang hal ini kemudian direspon oleh kalangan intelektual kiri yang mencoba mengambil jarak dari Syahrur yang mereka anggap tidak terlalu Marxis dan materialis-sekular. Popularitas buku Syahrur ini dibuktikan dengan luasnya kritikus yang terlibat dalam perdebatan sekitarnya, mulai dari ahli agama, ahli bahasa, ahli ekonomi, insinyur, praktisi hukum, jurnalis, dan sivitas akademika.14
Beragam kritik dan bantahan yang ditulis oleh berbagai kalangan tidak mengurangi popularitas Syahrur dan bukunya. Alih-alih, pada 1992 ceramah Syahrur di Universitas Damaskus menarik kedatangan lebih dari 5000 orang, meskipun kemudian ceramah ini dibatalkan. Namun, tidak seperti kalangan liberal di Mesir, misalnya, yang harus berhadapan dengan perangkat hukum setempat, Syahrur tidak harus mengalami nasib yang sama. Dia tidak pernah secara resmi dihukum karena melakukan tindakan penghinaan agama atau sejenisnya. Setelah pensiun dari Universitas Damaskus pada 1998, Syahrur tetap menerima undangan untuk memberikan kuliah di beberapa negara.
Tidak diragukan lagi bahwa karya terbesar Syahrur adalah al-Kitab wa al-Qur’an yang terbit pada 1990. Buku ini penting, karena di dalamnya, dia mengeksplorasi sisi epistemologis yang penting untuk membaca pemikirannya dengan lengkap, terlebih lagi buku ini didahului dengan penjelelasan metode linguistik yang ditulis oleh guru bahasanya, Ja’far Dik al-Bab.15 Selanjutnya pada 1994, buku keduanya terbit berjudul Dirasah Islamiyah fi al-Dawla wa al-Mujtama’. Dalam buku yang terdiri dari pengantar, sembilan bagian, dan penutup ini, dia mendiskusikan konsep-konsep yang berkaitan dengan negara dari unitnya yang terkecil.16 Dua tahun kemudian terbitlah bukunya yang berjudul al-Islam wa al-Iman Manzhumah al-Qiyam yang membahas tentang konsep-konsep teologis dalam Islam.17
Pada pergantian milenium, Syahrur menerbitkan bukunya yang keempat berjudul Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami Fiqh al-Mar’ah al-Washiyah al-Irts al-Qiwamah al-Ta’addudiyah al-Libas. Buku ini berbicara tentang isu-isu feminisme setelah terlebih dahulu berbicara tentang dasar-dasar epistemologis-filosofis yang mendasari diskusinya kemudian.18 Bukunya yang terakhir berjudul Tajfif Manabi’ al-Irhab,19 yang didalamnya dia membantah penafsiran konsep-konsep kunci dalam Al-Quran yang ditawarkan oleh kalangan Islam radikal. Setahun kemudian, pada 2009, kumpulan tulisannya yang terjemahkan dan diedit ulang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dengan judul The Qur’an, Morality and Critical Reason: the Essential of Muhammad Shahrur. Disamping beberapa buku diatas, Syahrur juga menulis banyak artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal, koran, dan situs internet.20

Disamping itu, antara tahun 1990 sampai 2000 terdapat setidaknya delapan belas buku dan banyak artikel jurnal yang secara spesifik berbicara tentang buku Syahrur. Banyak kritikus Syahrur yang mencoba kecenderungan Marxis-materialistik-sekular dalam pemikiran Syahrur, yang hal ini kemudian direspon oleh kalangan intelektual kiri yang mencoba mengambil jarak dari Syahrur yang mereka anggap tidak terlalu Marxis dan materialis-sekular. Popularitas buku Syahrur ini dibuktikan dengan luasnya kritikus yang terlibat dalam perdebatan sekitarnya, mulai dari ahli agama, ahli bahasa, ahli ekonomi, insinyur, praktisi hukum, jurnalis, dan sivitas akademika.14
Beragam kritik dan bantahan yang ditulis oleh berbagai kalangan tidak mengurangi popularitas Syahrur dan bukunya. Alih-alih, pada 1992 ceramah Syahrur di Universitas Damaskus menarik kedatangan lebih dari 5000 orang, meskipun kemudian ceramah ini dibatalkan. Namun, tidak seperti kalangan liberal di Mesir, misalnya, yang harus berhadapan dengan perangkat hukum setempat, Syahrur tidak harus mengalami nasib yang sama. Dia tidak pernah secara resmi dihukum karena melakukan tindakan penghinaan agama atau sejenisnya. Setelah pensiun dari Universitas Damaskus pada 1998, Syahrur tetap menerima undangan untuk memberikan kuliah di beberapa negara.
Tidak diragukan lagi bahwa karya terbesar Syahrur adalah al-Kitab wa al-Qur’an yang terbit pada 1990. Buku ini penting, karena di dalamnya, dia mengeksplorasi sisi epistemologis yang penting untuk membaca pemikirannya dengan lengkap, terlebih lagi buku ini didahului dengan penjelelasan metode linguistik yang ditulis oleh guru bahasanya, Ja’far Dik al-Bab.15 Selanjutnya pada 1994, buku keduanya terbit berjudul Dirasah Islamiyah fi al-Dawla wa al-Mujtama’. Dalam buku yang terdiri dari pengantar, sembilan bagian, dan penutup ini, dia mendiskusikan konsep-konsep yang berkaitan dengan negara dari unitnya yang terkecil.16 Dua tahun kemudian terbitlah bukunya yang berjudul al-Islam wa al-Iman Manzhumah al-Qiyam yang membahas tentang konsep-konsep teologis dalam Islam.17
Pada pergantian milenium, Syahrur menerbitkan bukunya yang keempat berjudul Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami Fiqh al-Mar’ah al-Washiyah al-Irts al-Qiwamah al-Ta’addudiyah al-Libas. Buku ini berbicara tentang isu-isu feminisme setelah terlebih dahulu berbicara tentang dasar-dasar epistemologis-filosofis yang mendasari diskusinya kemudian.18 Bukunya yang terakhir berjudul Tajfif Manabi’ al-Irhab,19 yang didalamnya dia membantah penafsiran konsep-konsep kunci dalam Al-Quran yang ditawarkan oleh kalangan Islam radikal. Setahun kemudian, pada 2009, kumpulan tulisannya yang terjemahkan dan diedit ulang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dengan judul The Qur’an, Morality and Critical Reason: the Essential of Muhammad Shahrur. Disamping beberapa buku diatas, Syahrur juga menulis banyak artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal, koran, dan situs internet.

Disamping itu, antara tahun 1990 sampai 2000 terdapat setidaknya delapan belas buku dan banyak artikel jurnal yang secara spesifik berbicara tentang buku Syahrur. Banyak kritikus Syahrur yang mencoba kecenderungan Marxis-materialistik-sekular dalam pemikiran Syahrur, yang hal ini kemudian direspon oleh kalangan intelektual kiri yang mencoba mengambil jarak dari Syahrur yang mereka anggap tidak terlalu Marxis dan materialis-sekular. Popularitas buku Syahrur ini dibuktikan dengan luasnya kritikus yang terlibat dalam perdebatan sekitarnya, mulai dari ahli agama, ahli bahasa, ahli ekonomi, insinyur, praktisi hukum, jurnalis, dan sivitas akademika.14
Beragam kritik dan bantahan yang ditulis oleh berbagai kalangan tidak mengurangi popularitas Syahrur dan bukunya. Alih-alih, pada 1992 ceramah Syahrur di Universitas Damaskus menarik kedatangan lebih dari 5000 orang, meskipun kemudian ceramah ini dibatalkan. Namun, tidak seperti kalangan liberal di Mesir, misalnya, yang harus berhadapan dengan perangkat hukum setempat, Syahrur tidak harus mengalami nasib yang sama. Dia tidak pernah secara resmi dihukum karena melakukan tindakan penghinaan agama atau sejenisnya. Setelah pensiun dari Universitas Damaskus pada 1998, Syahrur tetap menerima undangan untuk memberikan kuliah di beberapa negara.
Tidak diragukan lagi bahwa karya terbesar Syahrur adalah al-Kitab wa al-Qur’an yang terbit pada 1990. Buku ini penting, karena di dalamnya, dia mengeksplorasi sisi epistemologis yang penting untuk membaca pemikirannya dengan lengkap, terlebih lagi buku ini didahului dengan penjelelasan metode linguistik yang ditulis oleh guru bahasanya, Ja’far Dik al-Bab.15 Selanjutnya pada 1994, buku keduanya terbit berjudul Dirasah Islamiyah fi al-Dawla wa al-Mujtama’. Dalam buku yang terdiri dari pengantar, sembilan bagian, dan penutup ini, dia mendiskusikan konsep-konsep yang berkaitan dengan negara dari unitnya yang terkecil.16 Dua tahun kemudian terbitlah bukunya yang berjudul al-Islam wa al-Iman Manzhumah al-Qiyam yang membahas tentang konsep-konsep teologis dalam Islam.17
Pada pergantian milenium, Syahrur menerbitkan bukunya yang keempat berjudul Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami Fiqh al-Mar’ah al-Washiyah al-Irts al-Qiwamah al-Ta’addudiyah al-Libas. Buku ini berbicara tentang isu-isu feminisme setelah terlebih dahulu berbicara tentang dasar-dasar epistemologis-filosofis yang mendasari diskusinya kemudian.18 Bukunya yang terakhir berjudul Tajfif Manabi’ al-Irhab,19 yang didalamnya dia membantah penafsiran konsep-konsep kunci dalam Al-Quran yang ditawarkan oleh kalangan Islam radikal. Setahun kemudian, pada 2009, kumpulan tulisannya yang terjemahkan dan diedit ulang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dengan judul The Qur’an, Morality and Critical Reason: the Essential of Muhammad Shahrur. Disamping beberapa buku diatas, Syahrur juga menulis banyak artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal, koran, dan situs internet.


Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213). Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

Al Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan lil nas dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1) Salah satu ayatnya menjelaskan bahwa manusia tadinya merupakan satu kesatuan (ummatan wahidatan) tetapi sebagai akibat lajunya pertumbuhan penduduk serta pesatnya perkembangan masyarakat, maka timbullah persoalan-persoalan baru yang menimbulkan perselisihan dan silang pendapat. Sejak itu Allah SWT mengutus nabi-nabi dan menurunkan kitab suci agar mereka-melalui kitab suci tersebut- dapat menyelesaikan perselisihan mereka serta menemukan jalan keluar bagi penyelesaian problem-problem mereka (QS 2:213)

.

.